Hasil Survey : Prestasi Akademik, Parameter Utama Kualitas Sekolah
[slemankab.go.id]..Pada akhir tahun 2009 bulan september-Desember, Pemkab Sleman bekerjasama dengan Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol-UGM melaksanakan survey kepuasan masyarakat bidang pendidikan. Survey dilakukan pada 817 responden yang bertempat yinggal di 17 kecamatan yang terdapat di kabupaten Sleman.
332 responden berada dalam kelompok usia 17-33 tahun dan 302 responden dalam kelompok usia 34-50 tahun, 134 responden berusia diatas 51 tahun dan 23 responden tidak mengisi usia. Dari jenis kelamin 51,4% perempuan dan 48,6% laki-laki. Latar belakang pendidikan mayoritas responden adalah SMU sebanyak 44,3%, dan sarjana sebanyak 171%, sedangkan yang berpendidikan SD dan SMP sebanyak 21%. Pekerjaan respondemn 21,$% wiraswasta, 20,7% responden mahasiswa, 14.1 % PNS/TNI/POLRI, 10,2% karyawan swasta, 18,3% pensiunan,buruh, petani dan pedagang, 9,5% lainnya dan yang tidak mengisi sebanyak 5,8%. Pengeluaran responden rata-rata perbulan diatas Rp 750.000.
Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa 80% responden mengaku mendengar kebijakan sekolah gratis pertama kali dari media massa dan dari pihak sekolah dan Dinas pendidikan hanya 7%. Hal ini memperlihatkan bahwa media massa memegang peranan penting sebagai akses informasi utama masyarakat. Namun demikian 347 responden ( 42,5%) menyatakan informasi yang diterima tentang pendidikan gratis tidak jelas . Perbedaan pendapat responden tentang kejelasan informasi dinampakkan oleh masyarakat yang tinggal di Kecamatan Berbah, Gamping, Minggir dan Mlati untuk yang menganggap informasi tentang pendidikan gratis sudah jelas. Sedangkan perbedaan pendapat yang menganggap informasi layanan pendidikan gratis kurang atau tidak jelas dinampakkan oleh responden yang tingal di Kec. Depok, Mlati, Pakem dan Sleman. Ketidakjelasan dan kekuranglengkapan bermuara pada pemahaman yang salah serta harapan yang berlebih tentang makna pendidikan gratis. Ketidak tahuan tersebut juga tercermin dari jawaban responden yang tidak mengisi tentang pembiayaan dalam pendidikan gratis sebanyak 46,1%. sedangkan responden yang menyatakan pembiayaan dalam pendidikan Gratis adalah biaya operasional hanya sebanyak 36,5%.
Pemahaman masyarakat bahwa sekolah gratis yang telah diinformasikan akhir-akhir ini bukan berarti gratis dalam semua hal tampaknya kurang disadari oleh masyarakat. Masih terdapat beberapa bagian masyarakat yang menganggap biaya buku dan karya wisata pun seharusnya gratis. Responden dengan pengeluaran RP 750.000 ke atas cenderung memandang bahwa layanan pendidikan gratis diaplikasikan dalam bantuan operasional sekolah, sedangkan responden dengan pengeluaran Rp 250.000 memandang bahwa pendidikan gratis juga dipergunakan untuk keperluan pribadi siswa. Namun demikian 85, 7% responden setuju pemberian bantuan khusus pendidikan SMU dan SMK diprioritaskan untuk keluarga kurang mampu. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak semua masyarakat Kabupaten Sleman berharap bantuan pembiayaan pendidikan secara pukul rata, namun lebih pada pihak-pihak yang memang memerlukan bantuan.
Terkait dengan hubungan antara pendidikan gratis dan kualitas pendidikan sebanyak 53,5% memandang tidak ada hubungan antara pendidikan gratis dengan kualitas pendidikan atau terhadap jaminan kualitas pendidikan. Sedangkan 38% memandang adanya kaitan antara pendidikan gratis dan kualitas pendidikan. Namun demikian 86% responden memandang bahwa tanggungjawab masyarakat diperlukan dalam pendidikan di Kabupaten sleman. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya penyiapan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kabupaten Sleman telah disadari tidak dapat terlepas dari tanggungjawab masyarakat.
Dari hasil survey juga diketahui bahwa 38,1 % responden menyatakan bahwa faktor utama yang menentukan kualitas pendidikan adalah pengajar, diikuti dengan kegiatan belajar-mengajar sebanyak 20,8%. Responden mayoritas yakni 58,5% menyatakan bahwa prestasi akademik merupakan parameter utama kualitas sekolah, dan tenaga pengajar yang handal sebanyak 24,6%.
Prestasi lulusan Sekolah Sleman dapat dibanggakan, untuk tingkat SD terdapat 53,6% yang sangat setuju dan setuju bahwa prestasi lulusan SD dapat dibanggakan dan 25,7% yang menyatakan biasa. Sedangkan untuk sekolah menengah terdapat 42,8% yang menyatakan setuju dan sangat setuju dan 44,8% yang menyatakan biasa. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat melihat prestasi kelulusan siswa di Kabupaten Sleman dapat dibanggakan, meskipun masih terdapat sebagian masyarakat yang skeptik dengan prestasi kelulusan siswa sekolah-sekolah di Sleman.* * *











0 komentar:
Posting Komentar